TINGGINYA BUKIT, KINI BUKAN DENGAN HAMPARAN RUMPUT
JERAT INDONESIA, GARUT (4/21) Sekarang banyak orang yang kurangnya kesadaran akan penggunaan sampah plastik, semakin hari semakin merajalela. Kini membukit entah lusa, hilangkah atau menjadi gunung sampah. Orang dari kejauhan mungkin akan tertarik dengan ketinggian bukit tersebut, ketika mendekati, entah akan mendakinya atau hanya menjadi penonton dan pelaku penambah sampah baru lagi.
Meskipun pemerintah melarang penggunaan sampah plastik yang berlebihan, mungkin tidak bisa untuk saat ini, karena pada dasarnya setiap insan dibumi ini tidak bisa lepas dari yang namanya plastik, sekalipun itu menjadi alas untuk makanan atau sebagainya.
Apalagi di pandemi covid-19 industri pengelolaan sampah tidak luput kena imbasnya, pengurangan aktivitas diluar rumah pun mendorong produksi sampah plastik dirumah, jika kita hitung saja, berapa jumlah tambahan sampah plastik yang kita beli dari makanan jadi atau online dalam 1(satu) minggu.
Untung saja ada manusia yang masih meluangkan tenaga dan waktunya untuk menetralisir sampah, selalu dipandang hina pekerjaan pemungut atau pengelola sampah, namun itu merupakan pekerjaan paling mulia, karena mereka sadar akan pentingnya kebersihan. Jika tanpa mereka, mungkin disetiap rumah atau halaman pasti akan ada gunukkan sampah, atau jika tidak ada sampah dirumah dan halaman, pasti mereka membakar dan akan menjadi polusi udara, dan meresahkan bagi sebagian orang, terutama tetangganya.
Mungkin kini warga Garut, terutama daerah Leles yang sudah menyediakan Bank sampah, yang diberi nama “BANK SAMPAH SAUYUNAN” mampu mengondisikan sampah dikampung halaman sekitar Leles, yang nantinya dibuang ke PLTA. “Yang tersedia untuk saat ini hanya untuk menampung sampah Anorganik, untuk sampah organik belum bisa ditampung, karena belum belum ada, karena terkendala biaya untuk pembelian alat-alatnya” ujar Yusuf Munazir (21 tahun) yang menjadi pengurus aktif di Komunitas Bank sampah Sauyunan.
“Bank sampah Sauyunan ini didirikan pada tanggal 17 November 2018, berawal dari obrolan kosong 4 orang yang menyoroti persoalan sampah yang menumpuk di sungai, panjang pembicaraan berujung pada pembentukan dengan nama karang taruna RW 07 Desa Cipancar dengan nama “Karang Taruna Sauyunan”. Semula hanya fokus pada pengelolaan sampah secara sukarelawan, yang alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang. Kemudian mucul sebuah pemikiran menjadikan sampah yang tidak hanya membuat permasalahan dunia, tetapi menjadi sampah yang menghasilkan nilai tukar uang. Akhirnya selang beberapa bulan dari pembentukan karang taruna sauyunan, dibentuklah “BANK SAMPAH SAUYUNAN”.” Dikutip dari permbicaraan Yusuf Munazir.
Dalam satu bulan bank sampah ini sudah bisa menghasilkan berkaisaran dengan nomilal Satu juta lima ratus ribu rupiah (Rp. 1.500.000.00). Bank sampah tersebut bersifat independen, dikarenakan bebas siapa saja boleh ikut bergabung dalam kepengurusan bank tersebut.
Untuk filosofi penamaan “SAUYUNAN” ini yaitu, “Susah senang, suka duka, pahit manis, sasarengan” seperti itu yang katakan oleh Yusuf. Dan ada sekapur sirih dari pengelola bank sampah, untuk masyaka, terutama warga kecamatan Leles, umumnya bagi warna negara indonesia bahwasannya ia berkata “SADARLAH SAMPAHMU AKAN MENGANCAMMU”. Dari kalimat tersebut mungkin kita akan sadar sampah akan merubah dunia.
Kini bukit yang tinggi bukanlah dengan hamparan rumput atau pepohonan yang luas, namun kini dipenuhi dengan sampah plastik yang semakin menggunung. Jika kita sadar akan bahaya yang akan datang, maka kita akan bisa mepergunakan sampah dengan sebaik mungkin, memang jika sampah tersebut bisa didaur ulang, maka akan mampu untuk mengubah barang yang tak berguna itu menjadi barang yang berharga. Di orang yang salah barang berguna mungkin bisa jadi sampah, namun sebaliknya di orang yang benar sampah akan menjadi barang berguna.
Sebelum hal yang kita tidak inginkan terjadi, maka sadarlah akan pentingnya menjaga kebersihan dengan pengurangan sampah plastik. “Do not throw garbage on the street because we spent a lot of money to make rubbish bin in all over the world”
Novita Vizly Santika Untuk Jerat Indonesia

0 Komentar