ARTIKEL PENGAMEN CILIK DISUDUT KOTA GARUT.

 


JEMBATAN RAKYAT- Keberadaan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Depsos (2001:20) mendefinisikan bahwa anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Menurut Depsos (2007:5) pengemis adalah orang-orang yang mendapat penghasilan dari meminta-minta di muka umum dengan berbagai alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Sedangkan, gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum.

Fenomena anak jalanan, gelandangan, dan pengemis memang sudah biasa ditemukan apalagi di perkotaan salah satunya ditempat wisata kuliner Garut Ceplak , tidak jarang dari mereka terdapat di lampu merah, pusat perbelanjaaan, di bawah kolong jembatan, di pinggir-pinggir ruko, dan berbagai tempat yang sekiranya ramai didatangi atau dilewati masyarakat. Banyak faktor yang melatar belakangi keberadaan mereka, salah satunya pembangunan yang tidak merata sehingga mengakibatkan banyak kesenjangan sosial. Pembangunan yang tidak merata di setiap daerah mempengaruhi seluruh bidang kehidupan masyarakat mulai dari perekonomian, pendidikan, maupun kesehatan. Faktor penyebab keberadaan mereka yang paling utama merupakan masalah perekonomian, susahnya mencari lapangan pekerjaan ditambah dengan semakin hari semakin mahalnya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi membuat mereka yang merasa sudah tidak memiliki cara lain lagi terpaksa untuk turun ke jalanan. Dampak urbanisasi selain kotanya yang semakin padat, membuat persaingan dalam mencari pekerjaan semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat desa yang melakukan urbanisasi tetapi hanya bermodalkan nekat saja, tanpa memikirkan kemampuan dan soft skill yang harus dimiliki agar dapat bersaing dengan yang lain. Kasus seperti ini justru dapat meningkatkan angka pengangguran di kota-kota.

Pada anak jalanan di Kota Garut beberapa ditemui mereka terpaksa turun ke jalan sebagai pengamen, peminta sumbangan, bahkan menjadi ‘Boneka Badut’. Kebanyakan dari mereka harus merelakan berhenti dari bangku sekolah, meskipun beberapa dari mereka masih ada yang dapat melanjutkan pendidikannya. Alasan putus sekolah yang paling utama disebabkan masalah biaya namun beberapa dari mereka ada yang memang sengaja ingin putus sekolah agar dapat lebih lama lagi berada dijalanan untuk mendapatkan uang. Selain karena masalah perekonomian, faktor kekerasan dalam keluarga juga mempengaruhi anak untuk turun ke jalan. Beberapa anak mengakui bahwa mereka turun ke jalanan karena mereka melarikan diri dari rumah, mereka mengatakan bahwa tidak betah dirumah karena selalu menjadi korban kekerasan dari orang tuanya. Jalanan menjadi tempat pelarian bagi para anak-anak yang merasa tidak aman dan nyaman berada dirumah, keluarga yang tidak harmonis dan keluarga yang berasal dari pernikahan ketika usia belum matang sangat rentan untuk memicu keberadaan mereka.

Keberadaan mereka di jalanan disebabkan karena tingkat perekonomiannya yang lemah, ditambah pada saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini mereka mengeluhkan kehidupannya yang semakin sulit. Bantuan pemerintah yang dinilai tidak merata dan tidak jelas kapan akan diterima membuat mereka harus tetap turun ke jalanan agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan beberapa dari mereka mengakui bahwa tidak mempunyai kartu identitas ataupun akta kelahiran sehingga tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah khususnya selama pandemi Covid-19. Hal ini juga dapat disebabkan karena memang kebanyakan dari mereka tidak memiliki kartu atau surat identitas yang resmi seperti kasus salah seorang pengamen badut yang berada di lampu merah perempatan Maktal , selain tidak memiliki kartu tanda kependudukan (KTP) dan kartu keluarga (KK) yang membuatnya susah terdaftar dalam nama-nama penerima bantuan sosial dan ternyata anak ini juga tidak memiliki akta kelahiran yang membuatnya susah untuk mendaftar sekolah sehingga tidak bisa bersekolah.

Sebenarnya, untuk mengatasi banyaknya anak jalanan yang tidak mendapatkan pendidikan, pemerintah sudah turun tangan melalui anggaran. Ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hingga Kartu Indonesia Pintar (KIP). Intinya, menggratiskan sekolah. Setidaknya pada tingkat dasar dan menengah. Bahkan untuk perguruan tinggi ada bantuan bidikmisi. Dan juga sekarang ini KIP juga berlaku di perguruan tinggi. Namun, pendidikan gratis saja tidaklah cukup.

Jadi, sudah seharusnya kita sebagai elemen masyarakat turut andil dalam permasalahan ini. Kita tidak boleh tutup mata dan telinga kita untuk permasalahan in. Gunakan hati nurani dan rasa kemanusian kita untuk membantu para saudara kita. Bisa dengan mengajak orang lain menjadi sukarela dalam memberikan pendidikan bagi anak jalanan, mengajak orang untuk berdonasi, atau bahkan dengan membentuk komunitas yang peduli akan nasib pendidikan anak jalanan tersebut. Karena sejatinya anak jalanan juga butuh pendidikan dan berhak atas pendidikan itu.


Posting Komentar

0 Komentar